JALAN RAYA POS, JALAN DAENDELS
Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : I, Oktober 2005
Tebal : 145 hal
ISBN : 979-97312-8-3
Novel Jalan Raya Pos, Jalan Daendels karangan Pramoedya Ananta Toer
adalah sebuah Novel Sejarah yang menguraikan kebijakan Herman Willem
Daendels yang sedang berkuasa di Hindia Belanda dengan membangun jalan
raya pos dari Anyer sampai Panarukan. Daendels memerintahkan pembangunan
Jalan Raya Pos melalui penjatahan pada para bupati yang kabupatennya
dilalui jalan itu. Penanggung jawab teknis dari pekerjaan rodi ini,
namun yang tidak dapat menyelesaikan pekerjaan yang telah ditentukan,
akan digantung sampai mati pada dahan-dahan pohon sekitar proyek. Tidak
terhitung lagi pekerja yang mati, karena malaria, karena kelaparan,
karena kelelahan. Jalan ini termasuk jalan terpanjang didunia pada
masanya karena terbentang disepang pulau Jawa, sama dengan jalan raya
Amsterdam Paris.
Nyatanya bukan Daendels yang membuat seluruh jalan raya
pos ini.
Berabad sebelumnya bagian terbesar jalan raya pos ini sudah
ada.
Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Daendels merupakan
proyek yang sangat penting saat itu. Membentang 1.000 kilometer di
bagian utara Pulau Jawa dari Anyer di Provinsi Banten saat ini Hingga
Panarukan di Jawa Timur. Dibangun “hanya” dalam waktu satu tahun dengan
mengerahkan tenaga rodi rakyat Hindia Belanda yang tak berdosa.
Pembangunannya yang demikian ini menjadikan proyek ini sebagai salah
satu tragedi pembantaian terbesar dalam sejarah Hindia Belanda.
Diperkirakan 12.000 (ini hanya angka perkiraan yang dibuat pemerintah
kolonial Inggris, bisa saja lebih) rakyat tak berdosa tewas karena kerja
paksa dan wabah malaria selama pembangunan jalan ini. Sebuah peringatan
untuk kita para generasi penerus.
Daendels menurut novel jalan raya pos, jalan Daendels ini tidak
seutuhnya membuat jalan yang sepanjang 1.000 kilometer ini, namun
Daendels hanya melebarkan sampai 7 meter. Semua batu untuk peninggian
dan pengerasan, rakyat kecil, para petani, harus setor, dan tanpa
imbalan, atau dengan imbalan, hanya saja orang-orang atasan tertentu
yang menerimanya. Atasan disini ialah para pembesar orang berkulit putih
atau coklat, atau juga putih dan coklat. Bukan menjadi rahasia lagi,
bahwa pada era kompeni adalah zaman maraknya korupsi. Residen atau
asisten Residen yang sedang dinas atau setelah dinas, sudah menjadi tuan
tanah. Lebih kaya, dan lebih berkuasa, di kerajaannya sendiri daripada
sebagai pejabat kolonial.
Pram dengan begitu teliti menampilkan data-data historis yang begitu
detail berikut pengalaman-pengalamannya dalam buku ini. Secara sekilas
namun cukup jelas dan mendetail, Pram juga menyisipkan kisah-kisah
pembantaian yang pernah menimpa bangsa ini, baik oleh kaum penjajah
maupun oleh bangsa Indonesia sendiri.
Secara terstruktur Pram
menjelaskan proses pembangunan Jalan Daendels sejak dari titik nol di
Anyer hingga Panarukan. Dari kota ke kota Pram menyajikan fakta-fakta
menarik dan data-data historis tentang proses pambangunan jalan ini. Dan
ternyata Jalan Daendels bukanlah sebuah jalan “baru” yang dibangun oleh
Daendels. Beberapa ruas jalan telah ada sejak berabad-abad sebelum
orang Eropa menginjakkan kakinya di Pulau Jawa. Daendela hanya
memperlebar dan memperbaiki infrstruktur jalan sehingga dapat dilalui
segala jenis kendaraan. Data-data mengenai jalan kuno tersebut dengan
metode penuturan disajikan dengan sangat baik oleh Pram.
Hal ini tentu saja tak lepas dari pandangan politik Pram yang
kontroversial dan ada yang menganggap “kekiri-kirian”. Hanya saja
intensitasnya tak seberapa jika dibandingkan dengan karya-karyanya yang
terdahulu. Jika di perhatikan dengan seksama, beberapa kali Pram terasa
tak fokus dan mengalihkan topik pembicaraan ke masalah lain yang kurang
berhubungan dengan materi yang sedang dibahasnya. Hal ini dapat kita
temui di beberapa bagian buku ini.
Untuk pembaca yang kurang sabar
barangkali akan menimbulkan kebingungan. Dan lagi, di beberapa bagian
cukup terasa kalau Pram sedang “marah-marah”. Namun begitu, karya kecil
Pram ini patut kita beri apresiasi yang terhormat. Di masa senjanya Pram
masih mampu menyajikan sebuah reportase sejarah yang sedemikian detail
dan cukup akurat. Sebuah prestasi yang tak banyak dimiliki
penulis-penulis negeri ini.
Seperti halnya nasib bangsa ini di masa lalu, Pram sendiri merupakan
sosok penulis Indonesia yang kontroversial dan penuh vitalitas.
Dikucilkan oleh komunitas sastrawan karena track record-nya sebagai
budayawan LEKRA yang vokal dan tak kenal kompromi, tapi juga dipuji
karena kualitas karya-karyanya yang mendunia. Ini karenakan Pram mencoba
menyajikan sebuah tulisan yang terlihat realis, dan sesuai dengan
kenyataan yang ada.
Didalam Novel Jalan Raya Pos, Jalan Daendels pun Pram dengan terperinci
menjelaskan setiap kota-kota yang dilalui jalan raya pos ini sesuai
dengan historis dan kejadian-kejadian yang terjadi. Didalam novel
tersebut Pram menjelaskan setiap kota yang dilalui jalan raya pos ini.
Adapun kota-kota yang dilalui oleh pembangunan Jalan Raya Pos adalah
Blora-Rembang, Lasem, Anyer, Cilegon, Banten, Serang, Tangerang,
Batavia, Meester Cornelis/Jatinegara, Depok, Buitenzorg/Bogor, Priangan,
Cianjur, Cimahi, Bandung, Sumedang, Karangsembung, Cirebon, Losari,
Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Waleri, Kendal, Semarang, Demak,
Kudus, Pati, Juwana, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Wonokromo,
Sidoarjo, Porong, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Besuki,
Panarukan.
Buku ini ditulis dengan mengalir, tanpa pembagian bab. Pada
halaman-halaman awal Pram menguraikan awal ketertarikannya pada Jalan
Raya Pos yang memakan banyak korban jiwa para pekerja paksa yang ia
golongkan sebagai genosida. Ia juga menyinggung beberapa genosida yang
awalnya dilakukan oleh Jan Pietersz Coen (1621) di Bandaneira, Daendels
dengan Jalan Raya Posnya (1808), Cuulturstelsel alias tanam paksa,
genosida pada zaman Jepang di Kalimantan, genosida oleh Westerling
(1947) hingga genosida terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia di
awal-awal pemerintahan Orde Baru.
Setelah mengurai sejarah tercetusnya
ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels, di halaman-halaman
selanjutnya Pram membagi bukunya ini berdasarkan kota-kota yang dilewati
dan berada di sepanjang Jalan Raya Pos. Pram mencatat dan mengurai 39
kota yang berada dalam jalur Jalan Raya Pos, baik kota-kota besar
seperti Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya, maupun kota-kota kecil
yang namanya jarang terdengar oleh masyarakat umum seperti Juwana,
Porong, Bangil dan lain-lain.
Secara rinci Pram mengungkap sejarah terbentuknya kota-kota tersebut,
dampak sosial saat dibangunnya Jalan Raya Pos, hingga keadaan kota-kota
tersebut pada masa kini.
Masa-masa kelam ketika Jalan Raya Pos
dikerjakan terungkap di buku ini. Sampai di kota Sumedang pembangunan
jalan harus melalui daerah yang sangat berat ditembus, di daerah
Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Di sini
para pekerja paksa harus memetak pegunungan dengan peralatan sederhana,
seperti kampak, dan lain-lain.
Dengan medan yang demikian beratnya
untuk pertama kalinya ada angka jumlah korban yang jatuh mencapai 5000
orang.
Ketika pembangunan jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba
menghubungkan Semarang dengan Demak. Kembali medan yang sulit
menghadang. Bukan hanya karena tanahnya tertutup oleh rawa-rawa pantai,
juga karena sebagian daripadanya adalah laut pedalaman atau teluk-teluk
dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal utama. Menurut Pram
didalam Novelnya itu, walau angka-angka korban di daerah ini tidak
pernah dilaporkan, mudah diduga betapa banyak para pekerja paksa yang
kelelahan dan kelaparan itu menjadi korban malaria. (2008: 94) Sumber
Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan
raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah
korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.
Selain mengungkap sisi-sisi kelam di balik pembangunan Jalan Raya Pos,
Pram juga senantiasa menyelipkan penggalan kenangan-kenangan masa muda
dirinya pada kota-kota di sepanjang Jalan Raya Pos yang pernah ia
singgahi.
Ada kenangan yang pahit, mengesankan, dan lucu yang pernah
dialaminya di berbagai kota yang ditulisnya di buku ini. Sebut saja
pengalaman lucu ketika Pram muda yang sedang bertugas sebagai tentara di
daerah Cirebon.
Buku ini diutup dengan bab "Dan Siapa Daendels" yang ditulis oleh
Koesalah Soebagyo Toer.
Dalam bab ini diuraikan biografi singkat
Daendels. Selain itu bagian daftar pustaka yang menyajikan sumber-sumber
pustaka yang digunakan Pram untuk menyusun buku ini mencakup buku-buku
yang terbit pada pertengahan abad ke-19 hingga akhir abad ke-20. Tak
heran jika membaca karya ini pembaca akan mendapatkan hal-hal yang
detail mengenai sejarah kota yang dilalui oleh Jalan Raya Pos. namun
sayangnya buku ini tidak memuat peta yang secara jelas menggambarkan
rute-rute Jalan Raya Pos. Buku ini hanya menyajikan reproduksi dari peta
kuno yang diambil dari Rijks Museum Amsterdam. Peta yang tak
menggambarkan Pulau Jawa secara utuh dan huruf yang tak terlihat pada
peta tersebut tentu saja menyulitkan pembaca untuk memperoleh gambaran
akan sebuah jalan yang dibuat Daendels sepanjang Anyer hingga Panarukan
ini.
Source:
- Bahan Ajar Mata Kuliah Sastra Dalam Pembelajaran Sejarah
Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Bentang Budaya,
Yogyakarta
Ricklefs,M.C. 2008.
- Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Serambi,
Jakarta.
- Toer, Pramoedya Ananta. 2008. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, Lentera
Dipantara, Jakarta,
- http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Raya_Pos,_Jalan_Daendels
http://sejarawanmuda.wordpress.com/2011/04/10/jalan-raya-pos-jalan-daendels-pram’s-last-masterpiece/